Postingan Terbaru

GANTI FONT BLOG INI!

FAS Mesir dan Qanathir

Cairo, FAS Mesir, 10/10/10 - Setelah melakukan diskusi perdana, selasa (5/10) yang bertemakan "Aqidah dan Eksistensi Tuhan", FAS Mesir beriniatif melakukan refreshing dengan “mancing bersama” di Qanathir, tepi sungai Nil. Hal ini mengacu pada aktifitas tahun lalu, disaat FAS Mesir usai menerima kedatangan tiga anggota baru.

Agenda berjalan sesuai rencana, selepas asar. Ada dua basecamp untuk keberangkatan. Pertama Hay. Sadis (secretariat) dan kedua Damardasy atau sering disebut Cairo lama. Kemudian keduanya bertemu di terminal Tahrir, dan berngkat bersama menuju Qanatahir.
Telah biasa, dalam mengendurkan otak barang sejenak, selepas ujian, FAS Mesir melakukan refreshing, sebagaimana organisasi-organisasi almamater lainnya. Mulai dari melakukan study tour secara personal, long march di beberapa situs bersejarah dan mancing bersama sebagaimana yang usai dilakukan.

Ada salahseorang anggota yang mengeluhkan rencana tersebut. "Mengapa harus ke Qanatrhir, dimana kepergian kita tidak akan mendapatkan apa-apa?" keluhya. Ada juga yang tetap bersemangat sembari mengatakan: "Saya akan tetap berangkat karena yang memobilisir organisasi almamater". Meskipun demikian, setelah agenda itu berjalan secara alami, semua tampak begitu menikmatinya tanpa ada rasa keterpaksaan. Padahal hampir sehari semalam mereka berada di sana.

Memang, kali ini tidak semua anggota FAS Mesir dapat berpartisipasi. Hal itu disebabkan padatnya aktifitas, sehingga menyebabkan beberapa anggota mengalami benturan satu aktifitas dan aktifitas lainnya. Barangkali, hal paling berharga yang dapat diambil dari perjalanan itu adalah "kebersamaan" dan sejauh mana loyalitas seseorang terhadap organisasi almamaternya.

Reporter: Nurul Ahsan.
 

Medis Membedah Puasa

Pendahuluan
Sudah jamak diketahui bahwasanya urgensi puasa, puasa Ramadhan khususnya, begitu dalam bagi umat muslim. Dipandang dari sisi manapun, puasa mempunyai makna yang sangat mendasar bagi kemaslahatan kehidupan. Jelas sekali mengapa Allah swt. mewahyukan tuntutan teruntuk umat Muhammad SAW yang termaktub dalam firman-Nya :

يأيها الذين أمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Al-Baqoroh : 183).
Hal senada juga diungkapkan oleh Rasulullah swt. dalam haditsnya "صُومُوا تَصِحّوا”. Dalam hal keistimewaan, Imam Al-Ghozali ikut urun pendapat perihal puasa: “telah banyak kita ketahui bahwa kesabaran adalah sebagian daripada iman manusia, seperti yang telah diungkapkan oleh baginda Rosul. Dan perlu diketahui juga nilai puasa itu sebenarnya mengandung setengah dari makna kesabaran, kesabaran yang pahalanya tak terbatas “hanya” sepuluh kali lipat, sabar dalam menahan segala jenis nafsu, puasa adalah seperempat dari iman.”

Puasa Dalam Tataran Medis
Dewasa ini, ambiguitas mengenai makna puasa perlahan mulai terkikis. Puasa yang dulunya dianggap beban oleh sebagian kalangan, saat ini mulai terbaca segala rahasia yang turut mengiringinya, salah satunya dalam segi medis (kedokteran). Mendengar ungkapan rasul di atas, semestinya patut kita telisik kandungan yang tersembunyi di dalamnya. Apa benar puasa menjadikan sehat? Padahal puasa sendiri adalah mengurangi kadar makanan yang kita konsumsi tiap harinya, dan yang kita ketahui, untuk mendapatkan tubuh sehat segala suplemen tubuh haruslah dipenuhi, dengan makan tentunya. Allah pun telah jelas-jelas memerintahkan hal tersebut dalam firman-Nya "كلواواشربوا..". Lantas, mengapa Allah sendiri menganjurkan “mengurangi jatah makan” kita?

Nabi Muhammad pernah bersabda: "Barangsiapa yang berani mengosongkan perutnya, maka dengan otaknya dia akan menghasilkan sesuatu yang besar..". Menilik semua ungkapan Nabi tersebut jelas-jelas bahwa puasa bukan “hanya” mampu menghentikan segala laju nafsu, tapi ada keistimewaan lain yang belum diungkap.

Imam Al-Ghozali mengungkap sedikit tabir berkaitan hal itu, dalam karyanya Ihya’ Ulumuddin. Beliau menuturkan: “kadang kita tidak tahu bahwa makanan yang kita konsumsi sehari-hari sebenarnya berlebih. Setiap kita makan pasti ada sisa makanan yang berlebih, semakin hari semakin menumpuk di dalam tubuh. Penumpukan segala campuran makanan di dalam lambung tersebut dapat menyebabkan gangguan pencernaan di usus besar.” Hal itu jika dibiarkan berlarut-larut akan mengganggu proses pencernaan tubuh kita. Dengan puasa, sisa-sisa makanan tersebut akan dioptimalkan menjadi sumber gizi yang bermanfaat. Disamping itu puasa juga membersihkan sisa-sisa makanan yang tidak terpakai. Dr. Widodo Judarwanto, salah satu pakar kesehatan Indonesia, mengungkapkan, jumlah sel yang mati dalam tubuh mencapai 125 juta per detik. Namun yang lahir dan meremaja lebih banyak lagi. Saat melakukan puasa terjadi perubahan dan konversi yang massif dalam asam amino yang terakumulasi dari makanan. Sebelum didistribusikan dalam tubuh terjadi format ulang, sehingga memberikan kesempatan tunas baru sel untuk memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerjanya. Pola makan saat puasa dapat mensuplai asam lemak dan asam amino penting saat makan sahur dan berbuka. Sehingga terbentuk tunas-tunas protein , lemak, fosfat, kolesterol dan lainnya untuk membangun sel baru dan membersihkan sel lemak yang menggumpal di dalam hati.

Keuntungan rohaniah juga turut tergambar dalam puasa. Salah satunya adalah Kasr al-syahwat (meredamkan nafsu syahwat), dan ini mempunyai andil besar dalam tataran medis. Maksiat, yang notabene-nya muncul karena adanya syahwat dan kekuatan tubuh, hanya bisa timbul karena adanya sumber yang menyokongnya, yaitu makanan. Jadi, dengan menghentikan sementara laju makanan, secara langsung berdampak pada kencangnya keinginan maksiat. “karena kebahagian yang sesungguhnya adalah ketika seseorang dapat memiliki dirinya sepenuhnya mengendalikan dirinya”, komentar Imam Ghozali dalam sebuah karyanya.

Dr. Widodo Judarwanto menambahkan, keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah rterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.

Penutup
Setelah menelaah hal di atas, hikmah yang terselubung di balik puasa secara rahaniah ternyata mempunyai tali kaitan dengan tataran kesehatan. Yang perlu kita tekankan dalam memahami esensi puasa sebenarnya hanya berdasarkan hadits nabi ”"صُومُوا تَصِحّوا. Hadits tersebut memuat pelbagai rahasia puasa dalam segi lahiriah maupun batiniah. Rahasia mukjizat kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa inilah yang menjadi daya tarik ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek kesehatan puasa secara psikobiologis, imunopatofisilogis dan biomolekular.

oleh: M. Mu’afi Himam
 

Sekilas Biografi Abu Darda

Adalah seorang Hakim di daerah Syam pada masa pemerintahan Utsman Bin Affan. Nama lengkapnya adalah Uwaimir bin Zaid bin Qais, seorang sahabat perawi hadist dari Anshar, dari kabilah Khajraj. Ia hapal al-Quran dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Dalam perang Uhud Rasulullah bersabda mengenai dirinya: “Prajurit berkuda paling baik adalah Uwaimir”. Beliau ini dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Salman Al-Farisi. Dia mengikuti semua peperangan yang terjadi setelah perang Uhud. Ia meriwayatkan hadits dari Sayyidah Aisyah dan Zaid bin Tsabit, sedangkan yang meriwayatkan darinya ialah anaknya sendiri; Bilal, dan istrinya; Ummu Darda’. Hadits yang dia riwayatkan mencapai 179 hadits. Masruq berkata mengenainya: ”Aku mendapatkan ilmu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pada enam orang, diantaranya dari Abu Darda“.

Uwaimir bin Malik al-Khazraji lebih dikenal dengan nama Abu Darda. Ia merupakan sahabat nabi yang zuhud; meninggalkan gemerlapnya kehidupan dunia. Mengenai zuhud-nya, beliau berkata; “Dulu saya seorang pedagang sebelum Islam datang. Ketika ajaran Islam datang dan (saya masuk Islam), saya mengkalaborasikan antara dagang dan ibadah. Tapi keduanya tidak dapat bersatu. Hingga akhirnya saya tinggalkan profesi dagang untuk intens beribadah.” Karena ucapannya itu, Al-Imam Al-Dahabi berkata; “Alangkah baiknya mengabungkan keduanya secara sungguh-sungguh. Memang kadang tidak semua mampu mensinergikan keduanya. Meskipun demikian hak-hak dalam keluarga juga tidak kalah penting dibandingnya”.

Sebenarnya Abu Darda tidak meninggalkan perdagangan sama sekali. Dia hanya sekedar meninggalkan dunia dengan segala perhiasan dan kemegahannya. Baginya telah cukup sesuap nasi, sebatas untuk menguatkan badan, dan sehelai pakaian kasar untuk menutupi tubuh.
Pada suatu malam yang sangat dingin, ada sekumpulan orang bermalam di rumahnya. Abu Darda menyuguhi mereka makanan hangat, tetapi tidak memberinya selimut. Ketika hendak tidur, di antara mereka mempertanyakan selimut. Salah seorang dari mereka berkata; “Biarlah saya tanyakan kepada Abu Darda". Kata yang lain; “Tidak perlu!” Tetapi orang itu menolak saran yang telah diberikannya untuk tidak menanyakan selimut kepada Abu Darda.

Dia terus menuju kamar Abu Darda. Sampai di muka pintu dilihatnya Abu Darda sedang berbaring, dan istrinya duduk di sampingnya. Mereka berdua hanya memakai pakaian tipis yang tidak mungkin melindungi mereka dari kedinginan. Orang itu bertanya kepada Abu Darda; “Saya melihat Anda sama dengan kami, tengah malam sedingin ini tanpa mengenakan selimut. Anda kemanakan kekayaan dan harta benda Anda?”

Abu Darda pun menjawab: “Kami mempunyai rumah di kampung sana. Setiap mendapatkan harta benda kami langsung antarkan ke sana. Seandainya masih ada yang tersisa di sini (berupa selimut), sudah tentu kami berikan kepada tuan-tuan. Di samping itu, jalan ke rumah kami yang baru itu amat sulit dan mendaki. Apalagi membawa barang-barang seringan mungkin lebih baik daripada membawa barang-barang yang berat. Kami memang sengaja meringankan beban kami supaya mudah dibawa". Kemudian Abu Darda bertanya; “Pahamkah Anda?” Orang itu menjawab: “Ya, saya mengerti.”

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Abu Darda diberi kehormatan menjadi pejabat tinggi di Syam. Tetapi, Abu Darda menolak jabatan tersebut, sehingga menjadikan Khalifah Umar marah kepadanya. Kemudian Abu Darda berkata: “Jika Anda menghendaki saya pergi ke Syam untuk mengajarkan Al-Quran dan sunah Rasul kepada mereka, serta menegakkan shalat bersama-sama dengan mereka, maka dengan senang hati saya terima.” Rupanya Khalifah Umar menyetujui rencana tersebut, kemudian Abu Darda berangkat ke Damaskus.

Sesampainya di sana, ia mendapati masyarakat tengah terbuai kemewahan dan tenggelam dalam kenikmatan dunia. Hal itu sangat membuatnya sedih. Maka, diajaknya orang-orang itu untuk pergi ke masjid dan ia berpidato di hadapan mereka: “Wahai penduduk Damaskus! Kalian adalah saudaraku seagama, tetangga senegeri, dan pembela dalam melawan musuh bersama. Wahai penduduk Damaskus! Saya heran, apakah yang menyebabkan kalian tidak menyukai saya? Padahal, saya tidak mengharapkan balasan apa-apa dari kalian. Nasihatku berguna untuk kalian, sedangkan belanjaku bukan dari kalian. Saya tidak suka melihat ulama-ulama pergi meninggalkan kalian, sementara orang-orang bodoh tetap saja bodoh. Saya hanya mengharapkan kalian supaya melaksanakan segala perintah Allah, dan menghentikan segala larangan-Nya. Saya tidak suka melihat kalian mengumpulkan harta kekayaan melebihi batas, namun tidak kalian pergunakan untuk kebaikan. Kalian membangun gedung-gedung mewah, tetapi tidak kalian tempati atau kalian mencita-citakan sesuatu yang tak mungkin tercapai. Bangsa-bangsa sebelum kalian juga pernah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan bercita-cita setinggi-tingginya. Tetapi hanya beberapa saat harta yang mereka tumpuk habis terkikis, cita-cita mereka hancur berantakan, dan bangunan mewah yang mereka bangun runtuh menjadi kuburan. Hai penduduk Damaskus! Inilah bangsa ‘Ad (kaum Nabi Hud As.) yang telah memenuhi negeri (antara Aden dan Oman) dengan harta kekayaan dan anak-anak. Siapakah di antara kalian yang berani membeli peninggalan kaum ‘Ad itu dariku dengan harga dua dirham?”

Banyak orang yang menangis mendengarkan pidato itu, sehingga isak tangis mereka terdengar dari luar masjid. Sejak hari itu Abu Darda senantiasa mengunjungi tempat-tempat berkumpulnya masyarakat Damaskus dan pergi ke pasar-pasar. Jika ada yang bertanya kepadanya ia menjawab. Jika bertemu dengan orang bodoh ia mengajarinya, dan jika melihat orang lalai ia pun mengingatkannya. Direbutnya setiap kesempatan-kesempatan baik, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Demikian sekelumit kisah tentang sahabat nabi yang mampu memberikan keteladanan tentang bagaimana menjalani keseimbangan hidup, antara duniawi dan ukhrawy. Dunia bersifat sementara sedangkan akhirat bersifat kekal abadi. Bagaimanapun juga untuk meraih kekekalan itu sudah barangtentu tidak mengorbankan hak-hak keluarga, masyarakat dan sebagainya yang bersifat dunia. Wallahu a’lam.

Disadur oleh; M. Nurul Ahsan, dari berbagai sumber.
 

Karya Ilmiah vs Karya Sastra

Cairo, 07/09/2010 – Meriah dan penuh tawa. Itulah kondisi kongkow asyr al-awakhir bulan Ramadlan yang diadakan FAS Mesir, malam ini. Kongkow yang berlangsung hampir 2 jam itu suasananya tampak begitu hidup. Memang biasanya banyak terdapat joke juga, tapi malam ini nuansanya terasa beda dan istimewa, karena pembicara adalah Ust. Muhammad Shofi, ketua FAS Mesir, pereode 2010 – 2011.

Nurul Ahsan yang bertindak sebagai moderator memberikan prolog dan menyampaikan kebingungannya atas makalah yang ditulis pembicara. Menurutnya, tulisan yang ada justeru identik dengan “cerpen”. “Tulisannya bagus, tapi saya rasa kita akan bingung; harus menggunakan kaca mata apa kita menilainya? Karena, menurut saya ini bukan karya ilmiah tapi karya sastra” tutur moderator dalam memberikan prolog.

Hampir 20 menit pembicara memberikan orasi dan menjelaskan kronologi tulisannya. Sesuai dengan apa yang ia sampaikan, ternyata beliau hanya ingin menyajikan tulisan dengan bentuk yang berbeda. “Ini kisah nyata yang saya kemas dengan bentuk yang berbeda. Tapi tulisan ini tetap karya ilmiah. Apalagi di dalamnya menggunakan Ihya Ulum al-Din karya Al-Ghazali sebagai referensi” kisahnya untuk menepis keraguan pembaca.

Setelah orasi selesai secara otomatis masuk dialog interaktif. Ada lima orang yang bersedia menanggapi, yakni; Abdullah Farid, Sholeh Taufiq, Fathullah Mannan, Shalihan Labib dan Agus Salim. Mereka semua sepakat bahwa tulisan yang ada ditangan mereka bagus, hanya timing yang kurang tepat.

Agus Salim, Pembina FAS Mesir menyarankan: “Seharusnya Pembicara membidik segala pernak-pernik Ramadlan dari aspek sejarahnya, semisal; siapa yang memulai maidat al-rahman (pemberian buka puasa massal) dan bagaimana Fanus (lampu khas hari-hari besar) itu ada, seperti yang ada dalam buku ini” terangnya, serambi menunjukkan sebuah buku lumayan tebal.

Setelah semua bentuk kritik dijawab oleh Pembicara, sebagai penutup Penasehat FAS Mesir Bapak Machmudi Muhsan, MA. memberikan penilaian dengan cara pandang berbeda dari mayoritas audient malam ini. Pasalnya: “Pada dasarnya semua jenis tulisan atau narasi adalah informasi, sedangkan tulisan ini juga masuk kategori tersebut. Jadi, tulisan ini tidak salah. Hanya system penilaian yang kita gunakan yang berbeda, jadi terkesan absurd disampaikan di sini”.

Barangkali semua sependapat bahwa menilai sesuatu itu harus melihat kapasitas obyek sebagai apa agar mampu memberikan penilaian yang tepat. Bagaimanapun juga, semua yang hadir mengapresiasi bahwa tulisan yang disajikan cukup bagus. Apalagi Pembicara kali ini Ketua FAS Mesir, Ustadz Muhammad Shafy, orang pertama yang mampu mengetengahkan tulisan bernuansa baru.

Reporter: Nurul Ahsan
 

Rukhsah Puasa dan Problematika Kontemporer

Cairo, 06/09/2010 – Kehidupan tidak akan lepas dari yang namanya problem sedangkan Islam selalu mencoba mengakomodir segala persoalan kehidupan untuk dipelajari, agar nantinya mampu menghadirkan sebuah solusi yang tepat. Barangkali itulah tema kongkow Ramadlan yang diagendakan FAS Mesir malam ini, bersama Sdr. Irhas Darojat dan Sdr. Sholehan Labib.

Hanya 15 menit yang digunakan penceramah pertama, Sdr. Irhas Darojat, dari total waktu 20 menit yang diberikan moderator, Sdr. Nur Ihsan Mabrur. Meskipun elaborasi yang disampaikan hanya 15 menit tapi materi yang disampaikan cukup memuaskan.

Materi yang disampaikan penceramah berkutat pada persoalan-persoalan klasik, sebagaimana yang telah banyak diuraikan dalam buku-buku tradisional pesantren. Menurutnya, ada 4 kriteria orang mendapatkan keringanan untuk tidak melakukan puasa di bulan Ramadlan. Pertama, musafir atau orang bepergian dengan memenuhi syarat-syaratnya. Kedua, orang sakit. Ketiga, usia lanjut. Keempat, wanita hamil atau sedang menyusui.

Sebelum masuk pada dialog interaktif, pembicara juga menyinggung hukum bolehnya mengambil rukhshah seorang atlit sepak bola maupun olah dan atlit-atlit lain, dengan mengacu pada fatwa Majma' Buhuts al-Islamiyyah, Mesir, dan ulama-ulama Eropa. "Namun fatwa ini ditentang oleh Syeikh Utsaimin, Saudi Arabia. Seharusnya para atlit mencari pekerjaan lain yang lebih layak. Tidak boleh melakukan rukhshah" kutipnya, dengan mengacu pada fatwa ulama wahabi, Saudi Arabia.

Pembicara kedua, Sdr. Sholehan Labib membicarakan seputar lailatul qadar. Karena menurutnya dalam ceramah kali ini tidak mempunyai persiapan samasekali, maka beliau hanya berharap, malam ini, dimana FAS Mesir tengah melakukan agendanya adalah malam lailatul qadar. "Inilah malam yang yang kita tunggu-tunggu" tuturnya.

Banyaknya pertanyaan persoalan-persoalan baru dari Agus Salim Lc. Nurul Ahsan, Nasir Abdillah dan Sholeh taufik menunjukkan bahwa audient begitu antusias mengikuti agenda ini. Kemudian, disamping pertanyaan dijawab oleh pembicara, dua Pembina FAS, Ust. Machmudi Muhshon MA. dan Ust. Aniq Munir Lc. juga memberikan beberapa tambahan mengenai problematika kontemporer yang dihadapi umat Islam saat ini. Acara berakhir khidmat dan ditutup dengan do'a.

Reporter: Nurul Ahsan.
 
 
Support : Dimodifikasi oleh | masmuafi |
Copyright © 2013. MEDIA FAS MESIR - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger